Namaku Al-Fagas Dinata, aku seorang kakak pria untuk adik ku Saktha Dinata, aku berumur 17 tahun dan adik ku 10 tahun, kami berdua tidak memiliki ibu, ibu ku meninggal saat melahirkan saktha.
Ayahku bekerja sebagai penjaga perpustakaan di SMA 1 Budi Utomo, aku sekolah sekaligus kerja mengajar bimbel dimana-mana, dan Adikku kelas 5 sd. Kami setiap hari melakukan aktifitas di luar, Ayah baru pulang jam 3 sore, aku jam 7 malam, dan saktha jam 1 siang, hingga suatu hari saat aku sedang di sekolah, ayahku menelfonku dan dengan perasaan kaget ayah menangis saat di telfon.
“ Gas, kesinilah sekarang nak, saktha masuk rumah sakit !! “ ayah berbicara dengan nada panik dan takut
Aku kaget bukan main mendengar ucapan ayah, jantungku seperti ingin copot, aku pun langsung izin ke guru piket untuk langsung ke rumah sakit,
Saat di rumah sakit, ayah sedang berdiri di depan pintu sambil mulutnya berzikir, dan langsung aku masuk dan berbicara dengan nya, dan aku bertanya Saktha kenapa, Ayah mengajak ku duduk dan bilang kalau saat di sekolah saktha pingsan dan ketika dicoba untuk disadarkan oleh guru-gurunya saktha tak kunjung sadar, lalu guru saktha menelfon ayah dan bilang kalau saktha di bawa ke rumah sakit, sejak 3 jam lalu saktha masih di check keadaan nya dengan dokter, begitulah kata Ayah.
Aku kaget sekali, setau ku saktha tidak memiliki penyakit apa-apa, dia ceria, periang, dan cerdas. Setiap hari dia menjaga rumah tanpa mengeluh sedikit pun dia terkadang memasak, dan membantu pekerjaan rumah.
Tak beberapa lama kemudian dokter ke luar dari ruangan di mana saktha di check, dan ayah langsung menghampiri dokter itu,
“ dok, bagaimana keadaan anak saya ? “ kata Ayah dengan nada penasaran
“ Maaf pak, sebelumnya keluarga bapak harus sabar , ternyata saktha terkena kanker di otak nya “ ucap dokter.
Aku hampir pingsan mendengar ucapan dokter itu, apaaa ? ternyata adik ku saktha terkena penyakit se berat itu, tidak mungkin, saktha sehat, saktha tidak punya penyakit apa-apa. Ayah hampir pingsan mendengar ucapan dokter tersebut, lalu aku langsung ke kamar saktha.
“ de, saktha gak papa kan sayang ? “ aku bertanya pada saktha
“ saktha gak apa-apa kok ka, saktha baik-baik aja, kok saktha disini ka ? ayo kita pulang ka , “ saktha menjawab dengan keadaan lemah, tapi seakan-akan saktha baik-baik saja.
“ tadi saktha pingsan di sekolah, makanya saktha disini, saktha harus nginep dulu ya sayang, beberapa hari disini, biar besok-besok saktha gak disini lagi ! “ aku meyakinkan saktha bahwa saktha tidak kenapa-napa.
Sejujurnya di depan saktha aku ingin menangis, karena aku tidak kuat melihat keadaan saktha yang seperti ini aku tak sanggup melihat adik ku yang sangat aku sayang menanggung beban penyakit berat yang tak harus dia tanggung.
Hari demi hari setiap pulang sekolah aku menjenguk saktha di rumah sakit, terkadang aku tak menjenguknya karena aku harus mengajar bimbel hingga larut malam untuk membantu ayah membiyai rumah sakit saktha, hingga sampai suatu hari ayah bilang padaku,
“ Gas, seandainya Ayah diambil duluan oleh Allah, Fagas tetap menjadi anak yang sholeh ya, tetap doakan ayah ibu dan tetap menjaga saktha “
Aku terkejut saat ayah bilang seperti itu, apa maksudnya ? Setahu ku setiap ada masalah Ayah selalu bisa menghadapi dengan tegar, tapi kenapa ayah berbicara seperti itu. Aku ingin bertanya alasan kenapa ayah berbicara seperti itu, tapi saat aku Tanya ayah selalu, dan selalu menjawab biar waktu yang menjawabnya.
Saat di kamar rumah sakit saktha, Ayah sms kepadaku, dan bilang kalau Ayah tidak bisa berada disamping saktha untuk 3 hari ini karena Ayah harus ke luar kota karena urusan pekerjaan demi membiyai rumah sakit saktha, aku pun langsung menelfon ayah.
“ Asalammualaikum, Ayah sudah ada di mana sekarang ? “ tanyaku
“ Waalaikumusalam gas, Ayah udah di Bandara mungkin 30 menit lagi pesawat ayah berangkat Makassar “
Lalu saat aku ingin berbicara lagi, saktha bilang, saktha ingin ngomong sama ayah.
“ halo ayah, ini saktha, ayah hati-hati ya, semoga ayah baik-baik saja di sana, saktha sayang ayah.. “ saktha berbicara dengan penuh perhatian.
“ iya sayang, saktha nggak usah khawatir, ayah akan baik-baik saja nak, saktha cepet sembuh yah, kalau ayah pulang nanti, ayah bawakan hadiah untuk saktha dan kak fagas, Asalammualaikum anakku saktha yang cantik :) … “
Telefon ditutup, saktha bilang kalau ayah pulang nanti, saktha mau dibawakan hadiah, saktha sangat senang mendengar berita bahagia itu.
Setiap hari saktha selalu menanyakan kapan bisa pulang kak ?, Saktha kangen sama rumah, sama sekolah, aku hanya terdiam mendengar pertanyaan Saktha tanpa bisa berkata apa-apa, karena menurut dokter Saktha harus dirawat entah sampai kapan.
Besok ayah pulang dari Makassar, saktha sudah sangat bahagia dan menunggu kepulangan ayah, saktha sudah sangat penasaran hadiah apa yang dibawakan ayah untuk saktha, sampai saktha bilang kalau hadiah nya akan saktha simpan sampai saktha dewasa.
Sesungguhnya aku sangat sedih mendengar perkataan-perkataan saktha setiap hari, karena menurut dokter jika saktha masih kuat mungkin saktha masih bisa bertahan tapi jika tidak kuat, mungkin saktha akan ke surga. Sampai suatu saat aku memeluk saktha dengan erat dan berkata.
“ saktha harus kuat yah sayang, saktha harus bertahan, saktha harus bisa melawan semua ini, kakak sayang sama saktha, kakak gak mau saktha pergi de.. bertahanlah sayangg.. “ ucapku sambil mengeluarkan air mata.
Aku menangis di pelukkan adikku saktha, aku tak kuat menahan seandainya saktha diambil oleh Allah.
Saktha hanya berkata “ saktha memangnya kenapa ka ? saktha sehat kok? Kakak jangan nangis ya, saktha sayang kak fagas kok “
Dan esoknya sambil menunggu kepulangan ayah, aku menonton tv di kamar saat saktha sedang istirahat, dan aku menonton berita bahwa ada kecelakaan pesawat tujuan Makassar – Jakarta, pesawat jatuh di laut dan hampir di perkirakan semua penumpang tewas.
Ketika aku melihat berita itu, aku hampir ingin pingsan, aku langsung menelfon ayah, dan tidak tersambung, aku kaget dan aku menghubungi pihak bandara, dan benar itu pesawat ayah yang jatuh ke laut, ayah sudah tidak ada dalam benakku, tidak mungkin ayah pasti datang kesini, ayah pasti kesini membawa hadiah untuk saktha, ayah pasti kesini dan membawa pulang saktha, aku bersujud sambil menangis melihat semua berita yang tadi di siarkan, aku tidak kuat melihat ayah tidak ada lagi disampingku dan saktha, aku tidak sanggup kehilangan ayah, ayah yang merawatku dari dulu tanpa ibu, aku tak bisa tidak bercerita dengan nya, tak ada yang menghibur saktha lagi, tak ada sesosok imam di keluarga kami lagi. Ayahhhhhh…………..
Sampai pihak polisi mendatangiku dan bilang kalau jasad ayah sudah ditemukan, dan polisi menemukan surat yang masih bisa dibaca dan teruntukku dan saktha,
Teruntuk Anakku tersayang Fagas dan saktha.
Nak, maafkan ayah selama ini, jika ayah belum bisa mendidik fagas dan saktha dengan baik nak, maafkan ayah jika ayah belum bisa membuat kalian bahagia setiap hari, maafkan ayah kalau perhatian ayah tidak penuh untuk kalian, maafkan ayah nak karena ayah belum bisa menggantikan ibu untuk kalian,maafkan ayah terkadang masih belum bisa untuk menjadi pundak dalam tangisan kalian, maafkan ayah nak kalau ayah terkadang belum bisa mendengar curhatan kalian, maafkan ayah nak.. jika ayah belum bisa menjaga kalian selalu, nak.. yang harus kalian tahu nak, bahwa semua yang ayah lakukan selama ini demi kalian agar kalian menjadi anak-anak yang terbaik, anak-anak yang kuat, anak-anak yang sholeh dan sholehah sehingga saat ayah meninggal nanti kalianlah yang membantu ayah dan ibu untuk memasuki pintu syurga nya Allah. Dan untuk Fagas, anak pria yang paling hebat yang Ayah miliki, fagas jagalah saktha, yakinlah bahwa saktha akan sembuh dan akan selalu bersama dengan kita, kuatkanlah saktha, jika ayah sudah tidak ada hanya fagas lah yang mendidik saktha, berikan semua rasa sayangmu untuknya nak, bilang sama Saktha maafkan ayah selama ini, insyaAllah hadiah utnuk saktha akan ayah berikan di Syurga….
Ayah sayang Fagas dan Saktha….
Aku sudah tak bisa berbicara apa-apa lagi, aku hanya bisa meneteskan air mata di atas kertas surat yang ayah buat untukku dan saktha. Tangisan ini membuat aku lemah dan akhirnya aku hampir pingsan, tetapi aku ingat aku harus menjadi kakak yang kuat untuk saktha. Tetapi aku tak sanggup jika saktha mendengar ini semua, aku takut saktha tak kuat menahan semua ini, saktha masih kecil, Saktha belum mampu menahan semua ini. Tapi ini tak bisa di tutupkan saktha harus tahu, Sampai akhirnya aku bilang ke saktha.
“ saktha, adik kaka tersayang, bertahanlah sayang karena kita tinggal berdua disini, Ayah sudah menyusul ibu, dan ayah bilang hadiah untuk saktha akan ayah berikan si syurga special untuk saktha “
Saktha langsung menangis dan tiba-tiba saktha pingsan, dan dokter langsung menangani saktha dan ternyata saktha harus di operasi, sebelum operasi saktha bilang .
“ kak fagas, semoga Ayah dan Ibu bisa bertemu dengan saktha di syurga, kak fagas terima kasih atas semuanya, maafkan saktha kalau saktha belum mampu menjadi adik yang hebat dan kaka banggakan, Saktha sayang ka fagas “.
Dan setelah operasi ternyata saktha harus menyusul ayah dan ibu. Kini aku hanya bisa menjadi anak yang sholeh untuk membawa keluargaku Ayah, ibu, dan adikku tersayang saktha ada di dalam syurga bersama.
" Semoga cerpen diatas dapat menyadarkan bahwa kita harus selalu sayang dan menjaga ayah, ibu, kakak, dan adik kita, karena kita tidak tahu kapan mereka diambil dan bagaimana mereka diambil, jika orang tua kita diambil duluan, tugas lah kita menjadi anak harus menjadi anak yang sholeh atau sholehah :) "
Wasalammualaikum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar