Sabtu, 25 Desember 2010

Cerita Motivasi - Mengatasi Masalah

Kisah ini berisikan percakapan antara dua orang : ayah dan anaknya.

Seorang anak lagi bercerita tentang masalah yang dihadapinya kepada ayahnya. Anak ini nampak sedih sekali, semangatnya hilang, hidup tanpa gairah. Ia bercerita tentang beratnya masalah-masalah yang sedang dihadapinya. Tentang masalah-masalah rumit yang lagi dihadapinya.

Anak : ”Ayah, kenapa ya hidupku selalu dipenuhi masalah-masalah yang besar, aku merasakan sekali masalah besar selalu datang dalam kehidupanku. Sedangkan aku melihat kakakku sepertinya tidak pernah menemui masalah besar, rasanya dunia ini tidak adil terhadapku.”
Ayah : “Anakku, ayah mengerti keadaanmu dan masalah-masalah besarmu. Mari ayah bantu meringankan masalah-masalah besar dan berat yang selalu kamu temui dalam kehidupanmu.”
Anak : ” Benarkah ayah mau membantuku?”
Ayah : “Iyah, anakku. Coba tolong ambilkan sekantong garam, segalon air putih dan sebuah gelas.”
Anak tadi  mendengar perkataan ayahnya merasa bingung. Ayahnya mau membantunya dengan memintanya mengambil barang-barang tadi, bagaimana bisa membantunya, pikir si anak. “Aneh ayahku ini,” gumam si anak dalam hati. “Apakah ayah akan membacakan mantera-mantera buatku???” tanya si anak dalam hati.
Dengan perasaan masih sedikit bingung, akhirnya si anak ke dapur mengambil barang-barang yang disebutkan ayahnya tadi.
Anak : “Ayah, kenapa ayah memintaku mengambilkan barang-barang ini? Apa hubungannya garam dan segalon air dan sebuah gelas dengan masalah-masalahku yang tadi sudah kuceritakan ke ayah?”Ayah : “Coba kamu tuangkan air ke dalam gelas yang kamu bawa itu, dan masukkan secuil garam ke dalamnya, dan aduklah.”
Dengan bingung, si anak melakukan apa yang diminta ayahnya.
Ayah : ”Coba kamu minum airnya.”
si Anak mengikuti permintaan ayahnya…
Anak : ”Uhhh….asin sekali rasanya…”
Ayah :”Sekarang masukkan secuil garam yang banyaknya sama ke galon air yang kamu bawa, dan lantas coba kamu minum.”

Si Anak pun mengikuti..

Ayah :”Gimana, apakah terasa asinnya sama antara air di galon dengan air di gelas?”
Anak :”Yang di galon terasa tidak asin, sedangkan di gelas terasa asin. tapi ayah….apa hubungannya dengan mengatasi masalahku????”
Ayah :”Garam bisa terasa asin atau tidak tergantung pada banyaknya air yang terdapat di dalam besarnya wadah yang kamu campurkan garam. Begitu pula dengan masalahmu… Besar kecil masalahmu, tergantung pada “wadah” yang kamu punyai. Kamu besarkan lagi “wadah”mu… Besarkan pola pikirmu terhadap masalah. Lapangkan dadamu terhadap masalah… Namanya hidup pasti ada masalah. Besar kecilnya tergantung pada “wadah” yang kamu punyai.. Dengan masalah, kamu menjadi lebih berkembang dari sebelumnya. Pohon yang tinggi mengalami angin yang jauh lebih kencang. Jadi beruntunglah kamu, kamu artinya akan menjadi jauh lebih tinggi dari sekarang. Hadapi masalahmu, selesaikan, kamu akan jauh lebih besar dan tinggi..”

Kesimpulannya :

ketika anda mengalami masalah, ingatlah cerita motivasi ini. Karena, dengan masalah orang seseorang dapat berkembang.Jika dalam hidup tidak ada masalah, orang tidak akan ada perkembangani!!
So, hadapilah masalah-masalah anda, selesaikan dengan kepala dingin, dan berkembanglah….. 

Jumat, 24 Desember 2010

Cerpen=> Bunda, Maafin Naila ...


“Bunda, maafkan naila, naila sudah kelewatan sama bunda, bunda naila gak akan mengulangi perbuatan naila lagi, sekarang naila tahu kalo itu salah, bunda maafiin nailaa…”

Diawali dengan pagi yang kusam, aku berencana hari ini aku akan bolos sekolah dan pergi kerumah Shafa. Saat di jalan aku bertemu Fazka, dan Fazka mengajak bareng berangkat ke SMA ku, SMA 9 awalnya aku hampir sudah ingin naik motor nya tapi aku ingat bahwa hari ini aku mau bolos sekolah, dan aku bilang saja sama fazka, kalau aku mau kerumah shafa dulu, dan Fazka langsung meng-iya kan dan langsung pergi.

Dirumah shafa sangat sepi, tidak ada papah dan mamah nya, mungkin sudah berangkat kerja, dirumah nya hanya shafa dan pembantunya, saat ku masuk ke kamar nya Shafa sedang di kamar mandi.

“ shafa, gue datang ? hari ini kita jadi bolos kan ? “ ucapku dengan nada agak mengeras.

Shafa tidak menjawab ucapanku, mungkin tidak kedengaran soalnya shafa terbiasa sambil mendengarkan music saaat mandi. Aku langsung membuka tasku dan mengganti bajuku, lalu shafa datang.

“ loe udah sampe aja nai, maaf yah tadi gue gak jawab? Tadi loe ngomong apa ? “ Tanya shafa dengan santainya.

“ hari ini jadi bolos kan ? mau kemana fa ? “ tanyaku

“ gue pengen nya ke pucak nai. “ ucap shafa

“ ah, gilaa aja loe, ngapain kesana ? mendingan kita ke salon aja fa “

“ bosen gue nai, ke salon terus, gue pengen refreshing dan merasakan ketenangan disana ? “ jawab shafa sambol mengeringkan rambutnya

Karena Shafa memaksa, akhirnya aku dan shafa pergi lah ke puncak dengan naik mobil shafa, sampai sana jam 10 pagi, kami langsung ke tempat wisata dan bersenang-senang  disana.

  • Saat dirumah..
“ dari mana kamu naila ? “ Tanya bunda dengan nada marah

“ naila tadi kerumah Shafa bun, naila ngerjain tugas kimia bareng, makanya pulangnya malam “ ucapku dengan nada meyakinkan agar tidak ketahuan berbohong.

Alhamdulillah. Bunda percaya denganku, dan bunda tidak tahu kalau aku bohong. Maaf ya bun.

  • Keesokan harinya di kelas.

“ Naila, kamu kemana kemarin, kok tidak masuk sekolah ? “ ucap pak Hadi sambil meng-absen

“ saya sakit pak ! “ jawabku dengan nada yang pelan seperti orang habis sakit

“ kenapa tidak ada surat atau telefon dari orang tua mu ? “ tanya pak Hadi

“ kemarin orang tua saya tidak sempat memberi tahu sekolah pak, dan surat nya menyusul pak “ ucapku

Kini semua terkendali, bunda percaya , teman-teman percaya, dan pak Hadi pun percaya kalau aku berbohong.
Tetapi ada satu orang yang sangat tidak mungkin aku bohongi yaitu Fazka, harus bilang apa nanti kalau aku bertemu dengan nya. 

  • Siang Di Taman Sekolah.
Aku duduk di taman Sekolah sendiri, sambil memandangi bunga-bunga dan teman-teman yang sedang asyik mengobrol dengan yang lain. Sampai aku ditegur Fazka, dan Fazka Tanya tentang aku yang tak masuk sekolah, Fazka marah padaku, Fazka menanyakan kenapa aku berbuat seperti ini, aku hanya terdiam tanpa bisa berkata apa-apa dan saat aku terdiam fazka bilang :

“ Nai, alasan kamu bolos apa ? cerita ke aku nai? kamu kemana kemarin ? dengan siapa? Berapa banyak orang yang kamu bohongi nai?  Nai, Lihat bunda dan ayah mu yang sudah bersusah-susah payah mencari uang untuk sekolah mu, mereka sudah berusaha mendidik sekuat tenaga agar kamu menjadi anak yang berhasil nantinya ? Nai, kamu nggak kasihan sama bunda dan ayah mu?
Kamu rela melihat mereka malu atas semua sikapmu, kamu mau bunda mu kecewa dengan kamu, kamu mau nai ? kamu mau? (fazka membentakku ). Kamu ingin ? Orang Tua mu tidak mempercayai kamu lagi ? Naila dengarkan aku ! , kita adalah seorang anak yang harus membuat ke dua orang tua kita bangga dengan kita, agar mereka merasakan hasil kerja keras mereka, dan hasilnya itu dari kita nai, seandainya kita berbuat yang tidak baik, orang tua kita akan malu dan merasakan bahwa semua kerja keras, tenaga , dan uang yang diberikan untuk kita terbuang SIA-SIA, Terbuang SIA-SIA nai, kamu Mau Nai , kamu mau? “ Fazka membentak ku.

Kata-kata Fazka begitu membuat hatiku teriris,aku pun takut,  dan semua perkataan nya sangat membuatku menyesal atas perbuatan ku, aku selama ini tidak memikirkan ayah dan bunda, aku hanya memikirkan diriku sendiri dan kesenangan untuk diriku sendiri, aku tak pernah memikirkan kerja keras mereka? aku hanya bisa meminta, meminta dan meminta, aku tak pernah memikirkan perasaan mereka, aku tak pernah menuruti kata mereka ? ya ALLAh? kenapa aku bisa seperti ini ?, Ya Allah maafkan aku !
aku ingat kata-kata bunda saat aku masih SD, 

“ Naila cantik, naila akan tumbuh besar, akan banyak batu-batu besar yang naila harus lewati,
nak.. yakinlah kamu bisa melewati semua batu-batu itu, karena di balik batu-batu itu, ada bunda dan ayah yang membantumu. “

Kini, aku merasakan batu-batu itu sudah menggeserkanku ke jalan yang jauh dari ke dua orang tua ku, aku harus bisa kembali menjadi anak yang ayah dan bunda banggakan, menjadi anak yang ayah dan bunda inginkan, aku harus berikan penghargaan pada ayah dan bunda kalau Naila yang baru Naila yang terbaik sudah kembali. Aku akan katakan semuanya sebelum terlambat. 

Saat pulang sekolah, aku ingin langsung pulang kerumah dan bertemu bunda dan meminta maaf nya, memeluknya, dan bersujud pada nya, aku ingin bunda tahu kalau aku, Naila , sudah berubah menjadi Naila yang dahulu, Naila yang Cerdas, Naila yang Baik, Naila yang bisa bunda banggakan.

  • Saat Di rumah,
“ Mbak, Bunda kemana ? “ tanyaku pada Mbak Resi

“ Bunda ke Masjid nai, katanya ada pengajian ! “ jawab mbak resi.

Bunda tidak ada dirumah, bunda sedang pergi, kini aku menunggu bunda di ruang tamu,
Aku sudah tak sabar ingin bilang semuanya, dan menangis di pelukan bunda, aku ingin minta maaf sama bunda kalau perbuatanku akhir-akhir ini kelewatan dan membuat bunda kesal.

30 menit kemudian bunda masih belum pulang, hingga aku mendengar suara teriakan bunda di depan rumah, dan aku langsung keluar dan melihat bunda terkena tusukan pisau seorang maling yang sedang di kejar warga.

Bunda terdampar di jalan, aku langsung keluar dan teriaak dan menangis sambil memegang pipi bunda dengan tangan yang dipenuhi darah, dan aku langsung telefon ayah dan bilang kalau bunda terkena tusukan dan meminta ambulance segera ke sini.

Di Dalam hati ku, sudah tak bisa menahan lagi, hanya penyesalan lah yang ku alami sekarang

  • Saat di Dalam Ambulance
“ Bunda, bunda harus kuat bun,
bunda, naila belum cerita,
bunda, naila belum minta maaf sama bunda,
bunda, naila takut bunda belum bisa memaafkan naila,
bunda sadar bun, buka mata bunda, naila mau peluk bunda,
bun naila janji naila gak akan melakukan perbuatan-perbuatan itu lagi bun,
naila janji,
bunda sadar bun, naila sayang bunda “ 

Aku menangis terngiang-ngiang di ambulance di samping bunda, aku takut bunda pergi, aku belum sempat meminta maaf padanya, aku belum sempat membuat bunda bangga padaku, aku belum sempat melihat senyum terakhir bunda, aku belum sempat meceritakan semuanya, aku hanay berharap semoga Allah masih memberi bunda waktu di dunia ini bersama ku dan Ayah.

Sampai dirumah sakit, bunda langsung masuk ruang UGD, aku bersama ayah sudah berdoa agar bunda tidak kenapa-napa, tetapi saat dokter keluar dokter bilang maaf , ternyata  nyawa bunda sudah tak ada lagi.

Bunda sudah meninggal, dan belum sempat aku membuat Bunda tersenyum untuk terakhir kalinya. Bunda.. maafin Naila, Naila sayang Bunda….

_T_A_M_A_T_

STORY- Ketika Penyesalan Sudah Tak Berguna, Kasih Sayang Sang Bunda...

Saat aku beranjak dewasa, aku mulai mengenal sedikit kehidupan yang menyenangkan, merasakan kebahagian memliki wajah yang tampan, kebahagian memeliki banyak pengagum disekolah, kebahagian karena kepintaranku yang dibanggakan banyak guru. Itulah aku, tapi satu yang harus aku tutupi, aku malu mempunya ibu BUTA! Matanya tidak ada satu. Aku sangat malu, benar-benar malu.

Aku sangat menginginkan kesempurnaan terletak padaku, aku ingin menjadi yang terwah, tak ada satupun yang cacat dari dalam hidupku juga dalam keluargaku. Saat itu ayah yang menjadi tulang punggung kami sudah dipanggil terlebih dahulu oleh yang Maha Kuasa. Tinggalah aku anak semata wayang yang harusnya menjadi tulang punggung pengganti ayah. Tapi semua itu tak ku hiraukan. Aku hanya mementingkan kebutuhan dan keperluanku saja. Sedangkan ibu bekerja membuat makanan untuk para karyawan disebuah dirumah jahit sederhana.

Pada suatu saat ibu datang kesekolah untuk menjenguk keadaan ku. Karena sudah bebarapa hari aku tak pulang kerumah dan menginap dirumahku. Karena rumah kumuh itu membuatku muak, membuatku kesempurnaan yang kumiliki menjadi cacat, akan kuperoleh apapun untuk menggapai sebuah kesempurnaan itu.

Tepat disaat istri rahat, salah satu guru yang berpapasan denganku dikantin sekolah memanggilku.

“Afkar, kau kedatangan tamu!” ucap guru yang berpapasan denganku itu.

“Siapa bu ?”

“Lihat saja ke ruang tamu sekolah!”

Perintah guru itu segera kulaksanakan, aku berjalan melewati lorong-lorong kelas yang sedang ramai, anak-anak sepantarku sedang asiknya menikmati hidup yang semu ini. Beberapa menit kemudian sampailah aku didepan pintu ruang tamu sekolah. Kulihat sosok wanita tua sedang duduk. Bajunya pun bersahaja rapih dan sopan. Itulah ibu ku yang mempunya satu mata. Dan yang selalu membuat aku malu.

“Afkar ?” Ibu memanggilku

“Mau ngapain kamu kesini? Kamu datang hanya untuk mempermalukan aku!”

Beberapa anak-anak yang sedang berjalan didepan ruang tamu sekolah melihat kedalam ruangan yang menjadi neraka bagiku. Bentakkan dariku, membuat dirinya ingin segera bergegas pulang. Dan itulah memang yang kuharapkan. Ibu pun bergegas keluar dari sekolahku.

Karena kehadiranya itu aku benar-benar malu, malu sangat. Sampai beberapa temanku berkata dan menanyakan.

“AFKAR. IBU MU MATANYA SATU YAH?”

Terasa suntikan yang mematikan mendapat pertanyaan seperti itu, aku hanya melewatinya dengan wajah sinis.


Beberapa bulan kemudian aku lulus sekolah, dan diterima di sebuah Institu Negeri di Singapura. Aku mendapatkan Beasiswa yang ku incar, kukejar, dan aku ternyata berhasil mendapatkanya. Dengan bangga kubusungkan dada pada orang-orang yang sempat menghinaku. Aku berangkat pergi merantau ke Singapur tanpa memberi tau Ibu, karena bagiku itu tidak perlu, aku hidup untuk diriku sendiri. Persetan dengan ibuku. Seseorang yang selalu mengahalangi kemajuanku. Karena aku MALU.

Di Singapur, aku menjadi mahasiswa terpopuler karena kepintaranku. AKu sukses dan pada suatu saat aku menikah dengan seorang gadis Indonesia yang menetap di singapur. Singkat cerita aku menjadi seorang yang sukses, sangat sukses. Tempat tinggal kusangatlah mewah, aku mempunyai satu anak laki-laki berusia tiga tahun, dan aku sangat menyayanginya. Bahkan aku menjaminkan nyawa untuk putraku itu.

10 tahun aku menetap di Singapur, belajar dan membina rumah tangga dengan harmonis, dan nyaris sama sekali aku tak pernah memikirkan nasip ibuku. Ibu yang terlah melahirkan aku kedunia ini, membuatku berpijak didunia. Sedikit pun aku tak rindu padanya, aku tak mencemaskanya. Aku BAHAGIA dengan kehidupan ku sekarang.

Hingga pada suatu hari, putra sulungku sedang asik bermain didepan pintu. Tiba-tiba datang seorang wanita tua renta dan sedikit kumuh menghampirinya. Dan kulihat dia adalah Ibu, Ibukun datang kesingapur. Entah untuk apa dan dari mana dia mendapatkan ongkos. Seketika saja ibu ku usir. Dengan enteng aku mengatakan.

“HEY, PERGILAH KAU. KAU MEMBUAT ANAKKU TAKUT!”

Dan tanpa membalas perkataan kasarku. Ibu lalu tersenyum,

“Ma’af kalau begitu saya salah alamat”

Tanpa merasa terhunus, aku masuk kedalam rumah. Sempat istri menanyakan siapa yang datang dan kumarahi, dan aku menjawab “PENGEMIS”

Beberapa bulan kemudian, datanglah sepucuk surat undangan reuni dari sekolah SMA ku. Akupun datang untuk menghadirinya dengan berlasan pada istriku bahwa aku akan dinas keluar negeri. Tibalah aku dikota kelahiranku. Tak lama hanya ingin menghadiri pesta reuni dan sedikit menyombongkan diri yang sudah sukses ini. Berhasil aku membuat seluruh teman-temanku kagum pada diriku yang sekarang ini. Satu hal yang kutakutkan, mereka menanyakan ibu ku yang memalukan itu, karena matanya yang Buta. Tapi untung saja tak ada sepatah kalimat “IBU” yang menghantar padaku.

Reuni selesai, sebelum pulang ke Singapur. Aku ingin melihat keadaan rumahku. Tak tau perasaan apa yang membuatku melangkah untuk melihat rumah kumuh dan wanita tua itu. Sesampainya didepan rumah itu, tak ada perasaan sedih atau bersalah padaku, bahkan aku sendiri jijik melihatnya. Dengan rasa tak berdosa, aku memasuki rumah itu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ku lihat rumah ini begitu berantakan Bak kapal pecah yang baru saja terjun dan berhambur ketanah. Aku tak menemukan sosok wanita tua dalam rumah itu, entahlah dia kemana tapi aku merasa beruntung tak menemuinya. Bergegas aku keluar dan tiba-tiba salah satu tetangga dekat rumahku mengenaliku.

“Afkar ? subhanallah afkar, akhirnya kau datang juga. Ibu mu telah meninggal dunia dua minggu lalu”

“Oh….”

Hanya perkataan itu yang bias keluar dari mulutku. Tak tau mengapa tak ada tetesan air mata,jangan tetesan airmata sedikit rasa saja sedih tak aku rasakan saat mendengar ibuku meninggal.

“Ini, sebelum meninggal, ibumu memberikan surat ini untukmu”

Ibu-ibu yang menghampiriku segera bergegas pergi. Ku buka lembar surat yang sudah kucal itu.


**Untuk anakku Afkar yang Aku cinta**i

Demi Allah yang menggenggam nyawaku, yang menguasai ruhku, yang mencintaiku seperti aku mencintaimu walau kau membenciku sangat. Anak ku afkar, ibu tahu kan akan datang ke acara Reuni yang diadakan oleh sekolahmu. Sejujurnya ibu sangat merindukanmu, teramat dalam sehingga setiap sujudku pada Allah pemilik arsy! Aku meminta ampunan untukmu nak.
Asal kau tau saja afkar anakku tersayang, mata yang membuat mu malu ini adalah salah satu dari matamu. Waktu kau kecil, kau dan Ayah mu mengalami kecelakaan yang hebat, tetapi Ayah tidak terluka apa-apa sedangkan mata kananmu mengalami kebutaan. Aku tak tega anak tersayangku ini hidup dan tumbuh dengan mata yang cacat, maka aku berikan satu mataku ini untukmu.

Ya……salah satu matamu adalah mataku.
Kau melihat dengan mataku nak, dan aku bangga padamu karena kau bisa meraih apa yang kau inginkan dan cita-citakan.
Do’akanlah aku diterima disisiNya. Saat aku menulis surat ini, aku yakin maut sudah mengetuk pintu kehidupanku.

**Ibumu tercinta**

Bak petir disiang bolong yang menghatam seluruh saraf-sarafku, Aku terdiam!

Aku pulang seperti mayat hidup, tak satu patah katapun keluar dari mulutku menyambut senyuman putra tersayangku pun aku tak mampu. Aku benar-benar seperti manusia yang tak bernyawa.

Beberapa bulan kemudian, anakku meninggal dunia karena kecelakaan terlindas sebuah bus besar, tubuhnya kecilnya hancur lebur. Jadilah aku mayat yang benar-benar hidup setelah istrikupun ikut meninggalkan aku.

Kisah Nyata…=> Tujuh kali naik Haji tidak bisa melihat Ka’bah


Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukunIslam yang kelima.

Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.

Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”.

Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.

Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.

Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.

Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka’bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kmebali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.

Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka’bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah.

Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya.

Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.

Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka’bah. Padahal, setiap berada jauh dari Ka’bah, penglihatannya selalu normal. Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT ?. Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu ? Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.

Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat). Tanpa kesulitan berarti, Hasan dapat bertemu dengan ulama yang dimaksud.

Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang saleh ini. Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu dari hasan mau menelponnya. anak yang berbakti ini pun pulang. Setibanya di tanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut. Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya. Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci. Ulama itu kemudian meminta Sarah introspeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya di masa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah. Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya.

“Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele,” kata ulama itu pada Sarah.

Sarah terdiam sejenak. Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya. Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah. Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon. “Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit,” cerita Sarah akhirnya. “Oh, bagus…..Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia,” potong ulama itu. “Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,” ungkapnya terus terang. Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.

“Disana….” sambung Sarah, “Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.”

Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.“Astagfirullah……” betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak. bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya.

Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting.

Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal, nasab ini sangat menentukan dala perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.

“Cuma itu yang saya lakukan,” ucap Sarah.
“Cuma itu ? tanya ulama terperangah.
“Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan !”. ucap ulama dengan nada tinggi.

“Lalu apa lagi yang Anda kerjakan ?” tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
“Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati.” jawab sarah.
“Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,” kata ulama.
“Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir”.
“Maksudnya ?”. tanya ulama tidak mengerti.

“Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu sesuai dengan syaratnya, harus dipendam di dalam tanah. Akan tetapi saya tidak menguburnya di dalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.”

“Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan.”

Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.
“Cuma itu yang kamu lakukan ? Masya Allah….!!! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan”.

Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji. Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu.

Akhirnya ulama itu berkata, “Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda.”

Bumi menolaknya. Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah. Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon. Ia berharap Sarah t elah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya. Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya. Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di mesir. Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri. Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.

“Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon ustad,” ujar Hasan.
Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut.
“Bagaimana ibumu meninggal, Hasan ?”. tanya ulama itu.

Hasanpun akhirnya bercerita :

Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah. Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas ijin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras. Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali. Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat. Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat. Peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi. Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit.

Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai. Siangpun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satupun lubang yang berhasil digali. Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang. Jenazah itu dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.

Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur. Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin. Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri.

Dengan ijin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir. Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan. Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya,” Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!”. kata orang itu.

Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya. Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya.

“Aku minta supaya kau jangan menengok ke belekang, sampai tiba di rumahmu, “pesan lelaki itu.

Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman. Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan zenazah ibunya.

Sedetik kemudian ia menengok ke belakang. Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya. Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan. Hasan ketakutan. Dengan langka h seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.

Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu. Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar. Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan. Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya. Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.

Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan ijin Allah akan hilang. Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang. Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya. Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.

Kamis, 23 Desember 2010

Kisah Seorang Adik dan Kakaknya

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya. Siapa yang mencuri uang itu? Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!
Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, Ayah, aku yang melakukannya!

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus-menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.

Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal
memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu! Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus.
Saya mendengarnya memberengut, Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik hasil yang begitu baik Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus? Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku. Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai! Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang. Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai
ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana! Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku? Dia menjawab, tersenyum, Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga!

Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu. Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!

Tetapi katanya, sambil tersenyum, Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan
sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya. Apakah itu sakit? Aku menanyakannya. Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan Ditengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini. Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.

Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi. Suatu hari, adikku di atas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. Pikirkan kakak iparia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan? Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah, Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!
Mengapa membicarakan masa lalu? Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29. Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi? Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, Kakakku.

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sendoknya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku. Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Bisakah kita memiliki jiwa besar seperti si adik yang seperti dalam cerita, tapi bagaimanapun, yang namanya Saudara patut kita jaga dan kita hormati, apakah itu seorang adik atau seorang kakak. Karena apa arti hidup kalau tidak bisa membahagiakan sodara dan keluarga kita