Jumat, 24 Desember 2010

Cerpen=> Bunda, Maafin Naila ...


“Bunda, maafkan naila, naila sudah kelewatan sama bunda, bunda naila gak akan mengulangi perbuatan naila lagi, sekarang naila tahu kalo itu salah, bunda maafiin nailaa…”

Diawali dengan pagi yang kusam, aku berencana hari ini aku akan bolos sekolah dan pergi kerumah Shafa. Saat di jalan aku bertemu Fazka, dan Fazka mengajak bareng berangkat ke SMA ku, SMA 9 awalnya aku hampir sudah ingin naik motor nya tapi aku ingat bahwa hari ini aku mau bolos sekolah, dan aku bilang saja sama fazka, kalau aku mau kerumah shafa dulu, dan Fazka langsung meng-iya kan dan langsung pergi.

Dirumah shafa sangat sepi, tidak ada papah dan mamah nya, mungkin sudah berangkat kerja, dirumah nya hanya shafa dan pembantunya, saat ku masuk ke kamar nya Shafa sedang di kamar mandi.

“ shafa, gue datang ? hari ini kita jadi bolos kan ? “ ucapku dengan nada agak mengeras.

Shafa tidak menjawab ucapanku, mungkin tidak kedengaran soalnya shafa terbiasa sambil mendengarkan music saaat mandi. Aku langsung membuka tasku dan mengganti bajuku, lalu shafa datang.

“ loe udah sampe aja nai, maaf yah tadi gue gak jawab? Tadi loe ngomong apa ? “ Tanya shafa dengan santainya.

“ hari ini jadi bolos kan ? mau kemana fa ? “ tanyaku

“ gue pengen nya ke pucak nai. “ ucap shafa

“ ah, gilaa aja loe, ngapain kesana ? mendingan kita ke salon aja fa “

“ bosen gue nai, ke salon terus, gue pengen refreshing dan merasakan ketenangan disana ? “ jawab shafa sambol mengeringkan rambutnya

Karena Shafa memaksa, akhirnya aku dan shafa pergi lah ke puncak dengan naik mobil shafa, sampai sana jam 10 pagi, kami langsung ke tempat wisata dan bersenang-senang  disana.

  • Saat dirumah..
“ dari mana kamu naila ? “ Tanya bunda dengan nada marah

“ naila tadi kerumah Shafa bun, naila ngerjain tugas kimia bareng, makanya pulangnya malam “ ucapku dengan nada meyakinkan agar tidak ketahuan berbohong.

Alhamdulillah. Bunda percaya denganku, dan bunda tidak tahu kalau aku bohong. Maaf ya bun.

  • Keesokan harinya di kelas.

“ Naila, kamu kemana kemarin, kok tidak masuk sekolah ? “ ucap pak Hadi sambil meng-absen

“ saya sakit pak ! “ jawabku dengan nada yang pelan seperti orang habis sakit

“ kenapa tidak ada surat atau telefon dari orang tua mu ? “ tanya pak Hadi

“ kemarin orang tua saya tidak sempat memberi tahu sekolah pak, dan surat nya menyusul pak “ ucapku

Kini semua terkendali, bunda percaya , teman-teman percaya, dan pak Hadi pun percaya kalau aku berbohong.
Tetapi ada satu orang yang sangat tidak mungkin aku bohongi yaitu Fazka, harus bilang apa nanti kalau aku bertemu dengan nya. 

  • Siang Di Taman Sekolah.
Aku duduk di taman Sekolah sendiri, sambil memandangi bunga-bunga dan teman-teman yang sedang asyik mengobrol dengan yang lain. Sampai aku ditegur Fazka, dan Fazka Tanya tentang aku yang tak masuk sekolah, Fazka marah padaku, Fazka menanyakan kenapa aku berbuat seperti ini, aku hanya terdiam tanpa bisa berkata apa-apa dan saat aku terdiam fazka bilang :

“ Nai, alasan kamu bolos apa ? cerita ke aku nai? kamu kemana kemarin ? dengan siapa? Berapa banyak orang yang kamu bohongi nai?  Nai, Lihat bunda dan ayah mu yang sudah bersusah-susah payah mencari uang untuk sekolah mu, mereka sudah berusaha mendidik sekuat tenaga agar kamu menjadi anak yang berhasil nantinya ? Nai, kamu nggak kasihan sama bunda dan ayah mu?
Kamu rela melihat mereka malu atas semua sikapmu, kamu mau bunda mu kecewa dengan kamu, kamu mau nai ? kamu mau? (fazka membentakku ). Kamu ingin ? Orang Tua mu tidak mempercayai kamu lagi ? Naila dengarkan aku ! , kita adalah seorang anak yang harus membuat ke dua orang tua kita bangga dengan kita, agar mereka merasakan hasil kerja keras mereka, dan hasilnya itu dari kita nai, seandainya kita berbuat yang tidak baik, orang tua kita akan malu dan merasakan bahwa semua kerja keras, tenaga , dan uang yang diberikan untuk kita terbuang SIA-SIA, Terbuang SIA-SIA nai, kamu Mau Nai , kamu mau? “ Fazka membentak ku.

Kata-kata Fazka begitu membuat hatiku teriris,aku pun takut,  dan semua perkataan nya sangat membuatku menyesal atas perbuatan ku, aku selama ini tidak memikirkan ayah dan bunda, aku hanya memikirkan diriku sendiri dan kesenangan untuk diriku sendiri, aku tak pernah memikirkan kerja keras mereka? aku hanya bisa meminta, meminta dan meminta, aku tak pernah memikirkan perasaan mereka, aku tak pernah menuruti kata mereka ? ya ALLAh? kenapa aku bisa seperti ini ?, Ya Allah maafkan aku !
aku ingat kata-kata bunda saat aku masih SD, 

“ Naila cantik, naila akan tumbuh besar, akan banyak batu-batu besar yang naila harus lewati,
nak.. yakinlah kamu bisa melewati semua batu-batu itu, karena di balik batu-batu itu, ada bunda dan ayah yang membantumu. “

Kini, aku merasakan batu-batu itu sudah menggeserkanku ke jalan yang jauh dari ke dua orang tua ku, aku harus bisa kembali menjadi anak yang ayah dan bunda banggakan, menjadi anak yang ayah dan bunda inginkan, aku harus berikan penghargaan pada ayah dan bunda kalau Naila yang baru Naila yang terbaik sudah kembali. Aku akan katakan semuanya sebelum terlambat. 

Saat pulang sekolah, aku ingin langsung pulang kerumah dan bertemu bunda dan meminta maaf nya, memeluknya, dan bersujud pada nya, aku ingin bunda tahu kalau aku, Naila , sudah berubah menjadi Naila yang dahulu, Naila yang Cerdas, Naila yang Baik, Naila yang bisa bunda banggakan.

  • Saat Di rumah,
“ Mbak, Bunda kemana ? “ tanyaku pada Mbak Resi

“ Bunda ke Masjid nai, katanya ada pengajian ! “ jawab mbak resi.

Bunda tidak ada dirumah, bunda sedang pergi, kini aku menunggu bunda di ruang tamu,
Aku sudah tak sabar ingin bilang semuanya, dan menangis di pelukan bunda, aku ingin minta maaf sama bunda kalau perbuatanku akhir-akhir ini kelewatan dan membuat bunda kesal.

30 menit kemudian bunda masih belum pulang, hingga aku mendengar suara teriakan bunda di depan rumah, dan aku langsung keluar dan melihat bunda terkena tusukan pisau seorang maling yang sedang di kejar warga.

Bunda terdampar di jalan, aku langsung keluar dan teriaak dan menangis sambil memegang pipi bunda dengan tangan yang dipenuhi darah, dan aku langsung telefon ayah dan bilang kalau bunda terkena tusukan dan meminta ambulance segera ke sini.

Di Dalam hati ku, sudah tak bisa menahan lagi, hanya penyesalan lah yang ku alami sekarang

  • Saat di Dalam Ambulance
“ Bunda, bunda harus kuat bun,
bunda, naila belum cerita,
bunda, naila belum minta maaf sama bunda,
bunda, naila takut bunda belum bisa memaafkan naila,
bunda sadar bun, buka mata bunda, naila mau peluk bunda,
bun naila janji naila gak akan melakukan perbuatan-perbuatan itu lagi bun,
naila janji,
bunda sadar bun, naila sayang bunda “ 

Aku menangis terngiang-ngiang di ambulance di samping bunda, aku takut bunda pergi, aku belum sempat meminta maaf padanya, aku belum sempat membuat bunda bangga padaku, aku belum sempat melihat senyum terakhir bunda, aku belum sempat meceritakan semuanya, aku hanay berharap semoga Allah masih memberi bunda waktu di dunia ini bersama ku dan Ayah.

Sampai dirumah sakit, bunda langsung masuk ruang UGD, aku bersama ayah sudah berdoa agar bunda tidak kenapa-napa, tetapi saat dokter keluar dokter bilang maaf , ternyata  nyawa bunda sudah tak ada lagi.

Bunda sudah meninggal, dan belum sempat aku membuat Bunda tersenyum untuk terakhir kalinya. Bunda.. maafin Naila, Naila sayang Bunda….

_T_A_M_A_T_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar